Bahasa isyarat

Juni 29th, 2009 by armanperdana

Pengalamanku ini mungkin bisa buat bahan sharing, mudah-mudahan ada manfaatnya buat yang baca. Sama sekali tidak bermaksud jelek apalagi merugikan pihak tertentu (wiiii… serius amat)

Seminggu 2 sampai 3 kali aku pulang balik Yogya Magelang. Kadang bawa kendaraan sendiri, tapi lebih sering sih aku naik bis. Selain menghemat tenaga, yah lumayanlah bisa sedikit menghemat biaya. Kebetulan dari rumahku akses bis Yogya Magelang sangatlah mudah. Jarak antar bis sekitar 10 - 15 menit. Bisnya banyak pula. Judul-judul bis yang aku ingat ada Ramayana, Sumber Waras, Trisakti, Mustika, Trisulatama, Wolu (ini judul bis paling unik, wolu itu artinya delapan, padahal bisnya hanya satu, kek kek kek…). Ongkosnya 8 ribu sekali jalan. Murah, gak capek pula. Biasanya kondektur mulai narik ongkos habis Alun-Alun Sleman. Kalau sudah bayar, tidur deh, lumayanlah ¾ jam. Biarpun ngantuk biasanya aku tidur setelah ongkos ditarik. Males banget kan kalau lagi enak-enaknya tidur, dicolak colek kondektur yang nagih ongkos. Apalagi kalau berangkat pagi penumpang gak sampai bejubel. Lain kalau siang, fyuh… naik bau wangi turun bau sapi, kek kek kek

Zzzzzzzzzzzzz…

Satu waktu pernah ngobrol sama temen tentang suka dukanya menggunakan jasa angkutan massal yang mirip roti tawar itu. Maklum temenku juga sama-sama “pengguna”. Dia bilang kasih aja 6 ribu, tapi jangan lupa uangnya di lipet. Kalau pulang (sore) dari Magelang ke Yogya kasih 7 ribu, dilipet juga.

Iseng-iseng berhadiah aku coba. Begitu kondektur mulai narik ongkos, kulipet uang 6 ribu. Berhasil!!! Demikian juga ketika pulang ke Yogya, uang 7 ribu kulipet. Sukses!!! Dalam hati, wah lumayan juga nih bisa ngirit 3 ribu. Bayangin kalau  seribu kali pp Yogya Magelang kan bisa ngirit 3 juta perak…  (huah!!!).

Oh… rupanya begitulah bahasa isyarat yang berlaku di bis jurusan Yogya Magelang bagi orang-orang yang istilahnya nglajon / nglaju (pergi pulang). Para nglajonwan/wati biasanya pegawai, karyawan, pedagang dari Yogya yang bekerja di Magelang atau sebaliknya. Pertanyaanku, siapa ya yang pertama kali membuat kesepakatan ini? (he he he…)

Sekali waktu pernah aku coba uang 6 ribu tidak aku lipat, kira-kira bagaimana reaksinya. Dan ternyata, bener saja, kondektur minta kekurangan 2 ribu. Jadi rupanya uang dilipat itulah kuncinya. Bahasa isyarat yang hanya dimengerti oleh kondektur dan mereka orang-orang yang nglaju.

Aku gak tahu apakah di daerah lain juga berlaku bahasa isyarat yang sama dalam bis? Sama dengan yang aku alami atau ada bahasa isyarat lain?

Enbe:
Maaf lho pada bapak sopir dan bapak kondektur, bukan maksudku mengurangi hak pendapatan kalian, ini sekadar tukar pengalaman. Lagian yang baca postingan ini gak akan sebanyak calon penumpang anda. Sukses dan selalu hati-hati di jalan ya…

Senyum sendiri

Oktober 7th, 2008 by armanperdana

Hari Selasa ini saya bangun jam 02.30 wita buat sahur karena besok mau nerusin puasa Syawal yang baru dapat 3 hari. Ya, bulan Syawal yang identik dengan bulan Lebaran, bulan saling ma’af mema’afkan. Bahkan mungkin ada juga orang yang karena  tengsin  lalu memanfaatkan datangnya ‘bulan penuh ma’af’ ini untuk meminta ma’af atas kesalahannya kemarin-kemarin. Momentnya lagi pas. Dan biasanya orang akan lebih mudah memberi ma’af pada bulan ini, karena ya itu tadi momentnya lagi pas…

Sambil memanaskan makanan yang saya beli tadi malam, saya nonton Headline News di Metro TV yang mengabarkan penertiban para pedagang sayur mayur di Surabaya oleh Satpol PP. Mendengar isi beritanya saya tersenyum-senyum sendiri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan isi berita tersebut. Ya, mungkin syaraf kelucuan saya terlalu besar sehingga hal yang kecil dan tidak lucu saja bisa menjadi lucu bagi saya karena suka saya hubung-hubungkan dengan imajinasi yang saya bangun sendiri.

Begini kira-kira isi beritanya :

“Saudara, masih dalam suasana Lebaran, aparat Satpol PP melakukan penertiban kepada para pedagang sayur di Surabaya yang menggelar dagangannya di lokasi yang tidak diperuntukkan untuk berjualan. Kendati para pedagang mempertahankan dagangannya agar tidak di angkut aparat, tapi akhirnya para pedagang merelakan dagangannya dibawa aparat. Aparat Satpol PP memang sengaja melakukan penertiban dalam suasana Lebaran agar tidak mendapatkan perlawanan dari para pedagang.”

Nah, dalam pikiran saya mungkin juga para aparat Satpol PP ini juga memanfaatkan moment bulan penuh ma’af ini kali ya

He he he… Kalau menurut anda tidak ada unsur-unsur kelucuannya, jangan marah ya, kan masih suasana Lebaran.

Presiden menyamar? Mimpi kali yeee

September 24th, 2008 by armanperdana

Ada di berita hari ini Presiden berkunjung ke Stasiun Senen meresmikan KA Matarmaja. Dalam sekejap, stasiun disulap mengkilap lalu gepeng, pedagang asongan, preman dkk pun lenyap.

Dikemanain ya mereka?

Dikemanain mereka saya gak tahu, anda juga. Ya kan?

Mungkin mereka masih ada di sekitar stasiun, tapi dijaga petugas agar tidak keluar dari tempat persembunyiannya paling tidak selama para tamu kehormatan tersebut masih ada di stasiun. Selanjutnya ya riweuh lagi seperti biasanya.

Kira-2 menurut anda-2 semua nih, ketika SBY datang kesana itu, apa yang ada di hati dan pikiran beliau melihat Senen begitu rapi. Apakah bangga demi menyaksikan kondisi stasiun yang sangat rapi, bersih, nyaman dan terkesan aman. Atau justru sedih, karena saya yakin Presiden juga pasti tahu lah semua ini hanya sandiwara semata. Saya yakin beliau juga paham kondisi umum sehari-2 stasiun-2 (termasuk fasilitas-2 umum lho ya) di tanah air include Senen. Entah tahu dari mana. Mungkin lihat tivi, baca koran atau beliau pernah naik kereta dari Senen ketika belum jadi pejabat tinggi dulu.

Saya jadi ingat dongeng-2 kerajaan karya HC Anderson yang sering saya baca waktu kecil dulu. Dikisahkan, untuk mengetahui kondisi nyata sebuah negeri, seorang raja akan turun langsung ke tengah rakyatnya kalau perlu dengan cara menyamar agar mendapat informasi yang valid dan akurat mengenai kondisi rakyatnya, tingkah polah para pejabat pembantu raja, kondisi fasilitas umum dll dsb.

Hayo, berani nggak?

He he he, Mimpi kali yeee…